PEKANBARU, THILASIA.ID– Awal tahun 2025 adalah awal perjuangan baru bagi sekelompok aktivis mahasiswa yang tergabung dalam JMR (Jaringan Mahasiswa Riau), mereka mengawali tahun shio ular kayu ini dengan gerakan unjuk rasa karena mereka meyakini bahwa simbolis shio ular kayu adalah transformasi, intuisi dan pertumbuhan termasuk dunia gerakan.
Aksi demonstrasi yang dilaksanakan pada hari Senin, 03 Februari 2025 ini bertempat di Kantor KEJATI (Kejaksaan Tinggi) Provinsi Riau yang dimana massa aksi tersebut menuntut (Seperti tertera dalam spanduk-spanduk yang terbentang di depan pagar KEJATI Riau) :
1. Kami meminta dan memohon kepada KPK RI, KEJAGUNG RI dan KEJATI RIAU agar segera memanggil dan memeriksa Agung Nugroho untuk mengusut tuntas dana POKIR Agung Nugroho sebesar 10 Miliar di Dinas Pariwisata Provinsi Riau yang diduga anggaran tersebut disalahgunakan untuk memboncengi politik pada saat ia maju di PILWAKO 2024.
2. Kami meminta dan memohon kepada KPK RI, KEJAGUNG RI dan KEJATI RIAU agar segera memanggil dan memeriksa Agung Nugroho untuk mengusut tuntas dugaan praktek korupsi pengadaan ALKES di Kabupaten Kampar tahun 2019-2020 dengan perusahaan INHIL PRATAMA.
3. Kami meminta dan memohon kepada KPK RI, KEJAGUNG RI dan KEJATI RIAU agar segera memanggil dan memeriksa Agung Nugroho untuk mengusut tuntas aliran dana hibah dari Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Riau untuk IMI (Ikatan Motor Indonesia) yang dalam hal ini di salurkan melalui KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Provinsi Riau.
Gerakan JMR (Jaringan Mahasiswa Riau) ini di nakhodai oleh Cep Permana Galih (Mantan Presiden Mahasiswa di salah satu kampus ternama di Riau), Nanang (Koordinator Daerah BEM Nusantara Wilayah Riau), Ilon Carles (Sekretaris Jenderal HIPPEMARKI) dan Fajry Bintang Maulana (Ketua BEM di salah satu kampus ternama di Riau).
“Jadi kami menduga bahwa POKIR Agung Nugroho ini 10 Miliar dari Dinas Pariwisata Provinsi Riau pak, atas nama UMKM. Namun, ibu-ibu yang diberangkatkan itu malah dari BKMT (Badan Kontak Majelis Taklim) dan mereka ada yang dibawa ke bali, medan, dan lain-lain lalu disana mereka dibaiat dan diperintah bahwa setiap orang saat pulang ke Pekanbaru wajib menggalang massa 20 orang untuk kepentingan politik PILWAKO 2024, ya tentunya massa dari masyarakat yang di mobilisasi ini disuruh memilih Agung Nugroho saat PEMILU Wali Kota Pekanbaru 2024. Hal ini sangat melanggar peraturan, saya tak perlu mengupas undang-undang disini, intinya POKIR itu sudah jelas digunakan atau di selewengkan anggarannya untuk kepentingan pribadi.” Teriak Cep Permana Galih Sang Orator atau Aktivis Senior di Riau.
“Kami meminta kepada KEJATI Riau untuk memeriksa Agung nugroho terkait dugaan aliran dana dari DISPORA Riau ke KONI Riau lalu disalurkan ke IMI Riau yakni organisasi naungannya Agung Nugroho ini pak, yang dimana anggaran ini banyak di korupsi.” Ujar Nanang Aktivis asli Riau skala Nasional.
“Kami ingin Agung Nugroho ini segera di panggil dan di periksa pak, selain kasus POKIR dan Anggaran IMI, ada juga yang kasus pengadaan ALKES itu pak yang berada di Kampar, itu tolong periksa juga pak kan kasus itu sudah lama orang tahu kenapa gak di proses juga.” Imbuh Ilon Carles yang sering menangani dan membantu masalah-masalah masyarakat di Kampar ini.
“KPK RI kan disini (Riau) sekarang, kami sekarang demo, tolong di panggil segera dong Agung Nugroho ini. Kami juga dengan tegas meminta AHY untuk memecat Agung Nugroho dari Demokrat karena ia sudah banyak banget kasusnya.” Ungkap Fajry Bintang Maulana Aktivis muda di Riau namun mentalnya tak diragukan lagi.
Setelah seluruh orator selesai berorasi didepan KEJATI Riau, unjuk rasa ini langsung ditanggapi oleh perwakilan dari pihak KEJATI Riau.
“Kami juga sedang memproses kasus-kasus ini, sudah ada laporan yang masuk. Ya tunggu saja kami proses. Kalau dari adik-adik mahasiswa ada tambahan bukti ya silahkan lampirkan sebagai tambahan data dan buktinya.” Tutup Bapak Viktor selaku Humas atau Kepala Keamanan di KEJATI Riau.
Setelah berorasi kurang lebih 30 menit dan berdialog antara pihak massa aksi dengan pihak KEJATI Riau kurang lebih 30 menit, akhirnya massa aksi membubarkan diri dengan damai.
Penulis : Mardho Tila, S.E








