SUMATERA BARAT, THILASIA.ID — Dalam upaya menghidupkan kembali denyut kebudayaan bangsa dan menjaga marwah peninggalan leluhur, Yayasan Tanjak Bertuah melakukan kunjungan ke salah satu cagar budaya bersejarah, yakni Prasasti Ombilin, yang selama ini dikenal sepi dari kunjungan masyarakat.
Tulisan pada prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu andesit warna cokelat kehitaman, tetapi batu tersebut telah pecah dan bagian atas telah hilang. Ukuran batu yang tersisa adalah tinggi (panjang) 95 cm, lebar 48 cm, dan tebal 30 cm.prasasti ombilin terdiri dari 19 barisan tulisan yang tersisa dengan menggunakan huruf jawa kuno dan bahasa Sansekerta bercampur dengan melayu kuno. Menurut Casparis, prasasti ini merupakan 4 buah sloka, 2 sloka berbentuk sardula dan 2 sloka lainnya malini.
Isi yang terdapat dalam prasasti di atas antara lain berupa penghormatan kepada Adytiawarman yang pandai membedakan dharma dan adharma; ia punya sifat sebagaimatahari yang membakar orang jahat, tetapi menolong orang baik.
Kunjungan Yayasan Tanjak Bertuah ini merupakan bagian dari komitmen nyata dalam menjaga, merawat, serta menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa yang nyaris dilupakan oleh zaman. Prasasti Ombilin dinilai memiliki nilai sejarah tinggi, bukan sahaja sebagai peninggalan tertulis, tetapi juga sebagai penanda kejayaan peradaban masa silam di ranah Melayu dan Nusantara.
Ketua Yayasan Tanjak Bertuah, Andi Champay, melalui Aldi Saputra selaku Ketua Tim Media Yayasan Tanjak Bertuah, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah ikhtiar budaya yang lahir dari rasa tanggung jawab terhadap warisan leluhur.
“Yayasan Tanjak Bertuah kembali menghidupkan budaya bangsa, menghidupkan peninggalan leluhur, serta memperkenalkan kembali cagar-cagar budaya yang hari ini sepi kunjungan. Ini bukan sekadar kunjungan, tetapi upaya menjaga ingatan sejarah agar tak lapuk ditelan zaman,” ujar Aldi Saputra menyampaikan pernyataan Andi Champay.
Lebih lanjut disampaikan, Yayasan Tanjak Bertuah berharap keberadaan dan perhatian terhadap Prasasti Ombilin dapat membuka mata masyarakat luas, khususnya generasi muda, agar lebih mengenal akar budayanya sendiri.
“Besar harapan kami, tempat-tempat bersejarah seperti ini kelak menjadi wisata lokal yang ramai, hidup, dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, tanpa menghilangkan nilai sakral dan sejarahnya,” tambahnya.
Dengan langkah kecil namun sarat makna ini, Yayasan Tanjak Bertuah menegaskan komitmennya untuk terus menjunjung marwah budaya, merawat pusaka negeri, dan menghidupkan kembali cahaya sejarah yang pernah menerangi peradaban bangsa.
Marwah dijunjung, pusaka dijaga, sejarah jangan dibiarkan senyap.








