Pekanbaru, Thilasia.id– Hujan yang tak kunjung reda menggiring derita ke sudut-sudut kota. Pekanbaru, yang biasanya riuh oleh lalu-lalang kehidupan, kini sunyi dalam kepungan air. Sebanyak 38 ribu jiwa terpaksa bertahan di tengah bencana, menyaksikan rumah-rumah yang perlahan tenggelam dalam lautan kesedihan.
Air Bah, Tangis, dan Harapan yang Mengapung
Sejak pekan lalu, curah hujan yang tinggi membuat Sungai Siak dan anak-anak sungainya meluap. Jalan-jalan berubah menjadi sungai dadakan, rumah-rumah hanya tampak atapnya, dan sekolah-sekolah lengang, bukan karena libur, tapi karena murid-muridnya terpaksa mengungsi.
Di beberapa titik, air setinggi pinggang orang dewasa memaksa warga meninggalkan rumah yang mereka bangun dengan penuh peluh. Sementara di sudut lain, ada yang masih bertahan, memilih berjuang bersama genangan, berharap hujan segera jemu dan langit kembali ramah.
Pemerintah Bergerak, Warga Bertahan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekanbaru mencatat ribuan rumah terendam. Posko darurat telah didirikan, bantuan makanan dan selimut mulai disalurkan, tapi keterbatasan selalu jadi kendala. Sementara itu, perahu karet berkeliling mengevakuasi mereka yang terjebak, membawa serta luka dan kenangan yang tak bisa begitu saja ditinggalkan.
“Kami tak tahu harus ke mana. Air datang begitu cepat, semua barang hanyut, hanya baju di badan yang tersisa,” lirih seorang warga, matanya kosong menatap rumah yang kini menjadi bagian dari danau dadakan.
Di balik kepanikan, solidaritas tumbuh. Relawan bergegas, komunitas bahu-membahu, dan harapan tetap menyala di tengah air yang terus meninggi.
Banjir dan Sebuah Pertanyaan yang Tak Pernah Usai
Setiap tahun, kisah ini berulang. Hujan datang, air meluap, dan Pekanbaru kembali dirundung nestapa. Apakah ini takdir kota atau sekadar alarm yang terus berbunyi, mengingatkan kita pada sesuatu yang belum selesai?
Banjir bukan sekadar bencana alam. Ia adalah cermin dari sungai yang kehilangan ruang, dari kota yang kehilangan keseimbangan, dari janji-janji yang kerap surut sebelum sempat mengalirkan solusi.
Saat air perlahan surut, warga akan kembali, mengeringkan lantai rumah, menyusun ulang sisa-sisa kehidupan. Namun, satu yang tak pernah benar-benar kering adalah ingatan mereka—tentang satu lagi musim penghujan yang membawa kepedihan.
Dan di langit, mendung masih menggantung.
Pemerintah Kota Bergerak Cepat
Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, yang baru saja dilantik pada 20 Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, segera mengambil langkah cepat untuk menanggulangi bencana ini.
Dalam pernyataannya, Agung menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi musibah ini. “Kami akan bergerak cepat untuk memastikan keselamatan dan kebutuhan dasar warga terpenuhi,” ujarnya.
Harapan di Tengah Bencana
Meski banjir masih menggenangi banyak wilayah, semangat warga Pekanbaru untuk bangkit tak pernah surut. Dengan dukungan pemerintah dan solidaritas antarwarga, mereka yakin dapat melewati cobaan ini. “Banjir ini adalah ujian bagi kita semua. Dengan kebersamaan, kita pasti bisa melalui ini,” tutup Walikota Agung Nugroho.








